Cara Membersihkan Trotel Body Yamaha NMAX

Gambar
Hallo kawan Rider bagaimana nih tutorial yang telah saya bahas tentang Cara Mengatasi motor Yamaha Nmax Hilang Tenaga pasti cukup membantu para Rider untuk menambah wawasan ilmu kan tambah lagi untuk menghemat uang dimasa pandemi ini hehe Kali ini saya akan membahas tentang cara membuka Trotel Body Yamaha Nmax, Langsung saja kita meluncur ketopik pembahasanya pertama-tama yang Rider harus lakukan adalah menyiapkan konci konci untuk membungkar motornya konci yang perlu Rider siapkan adalah sebagai berikut -KONCI YANG HARUS DISIAPKAN Konci T/Palang 8 konci L (Bukan Yang L bintang !) Obeng (Screw Driver) Konci Ring Pas Ukuran 8-10-12-14-16-17 -Alat yang diperlukan untuk membersihkan Trotel Body Carbon Cleaner yang Spray Kuas/Sikat Gigi bekas Kompresor/Pompa Konvesional(gesut) Kain Bersih Langkah Langkah Pembongkaran yang harus dilakukan Lepas Behel Nmax(pegangan belakang motor),lepas dengan konci ring ya agar baut tidak rusak     2.Selanjutnya adalah Lepas jok motor Nmax setelah jok mo

TEKNIK PEMELIHARAN IKAN BANDENG



1) Persiapan Opersional.
a. Sarana yang digunakan memenuhi persyaratan higienis, siap dipakai
dan bebas cemaran. Bak-bak sebelum digunakan dibersihkan atau dicuci
dengan sabun detergen dan disikat lalu dikeringkan 2-3 hari.
Pembersihan bak dapat juga dilakukan dengan cara membasuh bagian
dalam bak kain yang dicelupkan ke dalam chlorine 150 ppm (150 mil
larutan chlorine 10% dalam 1 m3 air) dan didiamkan selama 1~2 jam dan
dinetralisir dengan larutan Natrium thiosulfat dengan dosis 40 ppm atau
desinfektan lain yi formalin 50 ppm. Menyiapkan suku cadang seperti
pompa, genset dan blower untuk mengantisipasi kerusakan pada saat
proses produksi.

b. Menyiapkan bahan makanan induk dan larva pupuk fytoplankton, bahan
kimia yang tersedia cukup sesuai jumlah dan persyaratan mutu untuk
tiap tahap pembenihan.

c. Menyiapkan tenaga pembenihan yang terampil, disiplin dan
berpengalaman dan mampu menguasai bidang kerjanya.


2) Pengadaan Induk.
a. Umur induk antara 4~5 tahun yang beratnya lebih dari 4 kg/ekor.

b. Pengangkutan induk jarak jauh menggunakan bak plastik. Atau serat
kaca dilengkapi aerasi dan diisi air bersalinitas rendah (10~15)ppt, serta
suhu 24~25 0C. Atau serat kaca dilengkapi aerasi dan diisi air
barsalinitas rendah (10~15) ppt, serta suhu 24~25 0C.

c. Kepadatan induk selama pengangkutan lebih dari 18 jam, 5~7 kg/m3 air.
Kedalaman air dalam bak sekitar 50 cm dan permukaan bak ditutup
untuk mereduksi penetrasi cahaya dan panas.

d. Aklimatisasi dengan salinitas sama dengan pada saat pengangkutan
atau sampai selaput mata yang tadinya keruh menjadi bening kembali.
Setelah selesai aklimatisasi salinitas segera dinaikan dengan cara
mengalirkan air laut dan mematikan pasok air tawar.

3) Pemeliharaan Induk
a. Induk berbobot 4~6 kg/ekor dipelihara pada kepadatan satu ekor per 2~4
m3 dalam bak berbentuk bundar yang dilengkapi aerasi sampai
kedalaman 2 meter.

b. Pergantian air 150 % per hari dan sisa makanan disiphon setiap 3 hari
sekali. Ukuran bak induk lebih besar dari 30 ton.

c. Pemberian pakan dengan kandungan protein sekitar 35 % dan lemak
6~8 % diberikan 2~3 % dari bobot bio per hari diberikan 2 kali per hari
yaitu pagi dan masa sore.

d. Salinitas 30~35 ppt, oksigen terlarut . 5 ppm, amoniak < 0,01 ppm, asam
belerang < 0,001 ppm, nirit < 1,0 ppm, pH; 7~85 suhu 27~33 0C.


4) Pemilihan Induk
a. Berat induk lebih dari 5 kg atau panjang antara 55~60 cm, bersisik
bersih, cerah dan tidak banyak terkelupas serta mampu berenang cepat.

b. Pemeriksaan jenis kelamin dilakukan dengan cara mem-bius ikan
dengan 2 phenoxyethanol dosis 200~300 ppm. Setelah ikan melemah
kanula dimasukan ke-lubang kelamin sedalam 20~40 cm tergantung dari
panjang ikan dan dihisap. Pemijahan (striping) dapat juga dilakukan
terutama untuk induk jantan.

c. Diameter telur yang diperoleh melalui kanulasi dapat digunakan untuk
menentukan tingkat kematangan gonad. Induk yang mengandung telur
berdiameter lebih dari 750 mikron sudah siap untuk dipijahkan.

d. Induk jantan yang siap dipijahkan adalah yang mengandung sperma
tingkat III yaitu pejantan yang mengeluarkan sperma cupuk banyak
sewaktu dipijat dari bagian perut kearah lubang kelamin.


5) Pematangan Gonad
a. Hormon dari luar dapat dilibatkan dalam proses metabolisme yang
berkaitan dengan kegiatan reproduksi dengan cara penyuntikan dan
implantasi menggunakan implanter khusus. Jenis hormon yang lazim
digunakan untuk mengacu pematangan gonad dan pemijahan bandeng
LHRH –a, 17 alpha methiltestoteron dan HCG.

b. Implantasi pelet hormon dilakukan setiap bulan pada pagi hari saat
pemantauan perkembangan gonad induk jantan maupun betina
dilakukan LHRH-a dan 17 alpha methiltestoteren masing-masing dengan
dosis 100~200 mikron per ekor (berat induk 3,5 sampai 7 kg).


6) Pemijahan Alami.
a. Ukuran bak induk 30-100 ton dengan kedalaman 1,5-3,0 meter
berbentuk bulat dilengkapi aerasi kuat menggunakan “diffuser” sampai
dasar bak serta ditutup dengan jaring.

b. Pergantian air minimal 150 % setiap hari.

c. Kepadatan tidak lebih dari satu induk per 2-4 m3 air.

d. Pemijahan umumnya pada malam hari. Induk jantan mengeluarkan
sperma dan induk betina mengeluarkan telur sehingga fertilisasi terjadi
secara eksternal.

Pemberian Makanan Alami

a. Menjelang umur 2-3 hari atau 60-72 jam setelah menetas, larva sudah
harus diberi rotifera (Brachionus plicatilis) sebagai makanan sedang air
media diperkaya chlorella sp sebagai makanan rotifera dan pengurai
metabolit.

b. Kepadatan rotifera pada awal pemberian 5-10 ind/ml dan meningkat
jumlahnya sampai 15-20 ind/ml mulai umur larva mencapai 10 hari.
Berdasarkan kepadatan larva 40 ekor/liter, jumlah chlorella : rotifer : larva
= 2.500.000: 250 : 1 pada awal pemeliharaan atau sebelum 10 hari
setelah menetas, atau = 5.000.000 : 500:1 mulai hari ke 10 setelah
menetas.

c. Pakan buatan (artificial feed) diberikan apabila jumlah rotifera tidak
mencukupi pada saat larva berumur lebih dari 10 hari (Lampiran VIII.2).
Sedangkan penambahan Naupli artemia tidak mutlak diberikan
tergantung dari kesediaan makanan alami yang ada.

d. Perbandingan yang baik antara pakan alami dan pakan buatan bagi larva
bandeng 1 : 1 dalam satuan jumlah partikel. Pakan buatan yang
diberikan sebaiknya berukuran sesuai dengan bukaan mulut larva pada
tiap tingkat umur dan mengandung protein sekitar 52%. Berupa. Pakan
buatan komersial yang biasa diberikan untuk larva udang dapat
digunakan sebagai pakan larva bandeng.

Komentar

  1. gan mau tanya resiko yang sering terjadi saat membudidayakannya apa ya dan bagaimana cara menimalisirnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. gunakan kolam yang bersih dan air yang mengalir gan

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN ALPUKAT

SEJARAH SINGKAT Tanaman Alpukat

Cara Mengatasi Motor Vario Yang Getar Atau Gredeg